Sunnah-Sunnah Sebelum Ihram Umrah yang Jarang Diketahui
oleh Admin Pusat
Ditulis pada
08 Januari 2026
Ibadah umrah memang sering dianggap baru dimulai sejak saat ihram dilakukan. Namun, sebelum melafalkan niat ihram, terdapat sejumlah sunnah yang dianjurkan bagi setiap jamaah untuk menjalankan. Sayangnya, sunnah-sunnah ini kerap terlupakan karena minimnya pemahaman atau karena tergesa-gesa dalam mengikuti rombongan. Padahal, dengan mengamalkannya, ibadah umrah akan menjadi lebih sempurna dan nilai spiritual dalam perjalanan tersebut juga akan semakin meningkat.
Mandi Sunnah Sebelum Ihram
Salah satu sunnah utama sebelum ihram adalah melakukan mandi. Mandi ini bertujuan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan batin sebelum memasuki momen ibadah yang suci. Bahkan bagi mereka yang sedang dalam kondisi haid atau nifas, mandi sunnah ini tetap dianjurkan karena fokusnya adalah pada kebersihan dan kesiapan diri, bukan untuk menghilangkan hadas besar. Jamaah disarankan untuk melakukan mandi ini di hotel atau di tempat miqat sebelum mengenakan pakaian ihram.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, beliau menyaksikan bahwa Nabi Muhammad SAW mengganti pakaiannya untuk ihram kemudian melakukan mandi. Para ulama juga sepakat bahwa mandi sebelum ihram hukumnya disunnahkan dan ihram tetap sah meskipun tidak dilakukan, namun sangat dianjurkan untuk melakukannya guna mencapai kesucian lahir dan batin. Selain itu, dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 222 juga disebutkan tentang pentingnya kebersihan dalam ibadah.
Menggunakan Wangian pada Badan Sebelum Ihram
Setelah mandi, jamaah dianjurkan untuk menggunakan wewangian pada bagian badan, bukan pada pakaian ihram. Rasulullah SAW sendiri dikenal sering menggunakan minyak wangi sebelum memasuki keadaan ihram, dan aroma wangi tersebut bahkan masih tercium setelah beliau berihram. Hal ini seringkali tidak diketahui oleh banyak jamaah, sehingga mereka justru menghindari penggunaan parfum sama sekali. Perlu dipertegas bahwa larangan penggunaan wangi-wangian baru berlaku setelah niat ihram dilafalkan, bukan sebelum itu.
Hadis dari 'Aisyah menyebutkan, "Aku pernah memberi wewangian kepada Rasulullah SAW untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallulnya sebelum melakukan thawaf di Ka'bah".
Memotong Kuku, Merapikan Rambut, dan Mencukur Bulu-bulu yang Dianjurkan
Sunnah berikutnya adalah memotong kuku, merapikan rambut, serta mencukur bulu-bulu yang dianjurkan dalam tata kebersihan diri. Tindakan ini bertujuan agar jamaah merasa lebih nyaman selama berada dalam keadaan ihram, karena setelah niat ihram dilafalkan, hal-hal tersebut menjadi terlarang. Dengan melakukannya sebelum ihram, jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang tanpa khawatir akan melanggar larangan.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menyatakan nazar untuk berihram, maka ia dilarang mencukur rambut, mencabut rambut, memotong kuku dan berhubungan suami istri, barangsiapa melakukannya, maka tidak lain hanya membayar kafarat (denda) sejumlah seekor atau beberapa lembar uang perak" (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Ihram
Selain itu, shalat sunnah dua rakaat juga sangat dianjurkan untuk dilakukan sebelum melafalkan niat ihram, selama tidak berada pada waktu terlarang untuk melaksanakan shalat. Shalat ini menjadi momen penting bagi jamaah untuk memantapkan niat dan menghadirkan kekhusyukan sebelum memasuki rangkaian ibadah umrah.
Mengenai shalat ini, jumhur ulama berpendapat bahwa dianjurkan untuk melaksanakannya sebelum memulai talbiyah, berdasarkan hadits dari 'Umar bin Khattab yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah disuruh oleh malaikat untuk shalat di lembah 'Aqiq yang diberkahi sebelum memulai ihram. Meskipun sebagian ulama memiliki pandangan berbeda mengenai keberadaan shalat sunnahkhusus ini, namun melakukan shalat sebelum ihram tetap menjadi bentuk persiapan yang baik. Selain itu, dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra' ayat 78 juga ditegaskan tentang pentingnya melaksanakan shalat pada waktunya.
Memahami dan mengamalkan sunnah-sunnah sebelum ihram bukan hanya sekadar masalah fiqih semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kesiapan hati dan diri secara menyeluruh. Dengan persiapan yang matang dan baik, ibadah umrah diharapkan dapat menjadi pengalaman yang lebih tenang, tertib, dan penuh dengan makna spiritual. Oleh karena itu, bimbingan dari pembimbing umrah yang kompeten serta edukasi sejak dini menjadi kunci penting agar setiap jamaah dapat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.