Hajar Aswad: Batu Sakral yang Mendunia di Sudut Ka'bah

oleh Admin Pusat


Ditulis pada 13 Januari 2026



Bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji atau umrah, pasti tidak asing dengan Hajar Aswad yaitu sebuah batu hitam yang terletak di sudut tenggara Ka'bah, tempat awal dan akhir tawaf. Batu ini bukan hanya sekadar benda fisik, melainkan memiliki makna sejarah dan spiritual yang dalam bagi jutaan umat Muslim di seluruh dunia.

 

Secara fisik, Hajar Aswad memang tampak berwarna hitam, bahkan sedikit kemerahan, dengan titik-titik merah dan kuning di permukaannya. Batu ini juga tidak lagi utuh, melainkan terdiri dari beberapa fragmen kecil yang disatukandan dibingkai dengan perak agar tetap aman melekat di dinding Ka’bah. Menurut riwayat, pada awalnya Hajar Aswad berwarna putih bersih, bahkan disebut lebih putih dari susu, karena berasal dari surga. Seiring perjalanan waktu, warnanya berubah menjadi hitam. Dalam tradisi Islam, perubahan ini sering dijelaskan sebagai simbol bahwa batu tersebut telah “menyerap” dosa-dosa manusia yang menyentuhnya, meskipun hal ini bersifat maknawi, bukan penjelasan ilmiah.

 

Sejak zaman Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail, Hajar Aswad sudah menjadi bagian dari Ka’bah. Batu ini diletakkan di sudut Ka’bah sebagai tanda penting dalam ritual ibadah. Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang, beliau pun memberikan perhatian khusus pada Hajar Aswad. Dalam beberapa riwayat, Nabi diketahui mencium dan mengusap batu ini saat tawaf. Dari sinilah muncul sunnah bagi umat Islam untuk melakukan hal yang sama.

 

Inilah sebabnya mengapa hingga hari ini, jamaah dari seluruh dunia berlomba-lomba ingin mendekat, menyentuh, atau mencium Hajar Aswad. Namun penting dipahami bahwa umat Islam tidak menyembah batu tersebut. Seperti yang pernah disampaikan oleh Umar bin Khattab, beliau mencium Hajar Aswad bukan karena batu itu memiliki kekuatan, melainkan karena Rasulullah melakukannya. Artinya, yang diikuti adalah sunnah Nabi, bukan benda itu sendiri.

 

Karena jumlah jamaah sangat banyak, area sekitar Hajar Aswad sering kali padat. Dalam kondisi seperti ini, jamaah tidak dianjurkan memaksakan diri. Jika tidak memungkinkan untuk mendekat, cukup menghadap ke arahnya dan mengangkat tangan sebagai isyarat, lalu melanjutkan tawaf. Bagi jamaah lansia, cara ini jauh lebih aman dan tetap bernilai ibadah.

 

Memahami makna Hajar Aswad membantu jamaah menjalani ibadah dengan lebih tenang, tidak berlebihan, dan tetap fokus pada tujuan utama umrah dan haji, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan.

Berita lainnya

blog-img

Umroh Keluarga: Membangun Ikatan Ukhuwah di Tanah Suci

Umrah bersama keluarga mengubah ibadah individu menjadi pengalaman kolektif penuh berkah. Bukan sekadar ziarah, ini kesempatan mendidik anak-anak tentang sejarah Ka'bah sambil mempererat silaturahm...

Selengkapnya
23 Januari 2026
blog-img

Kota Thaif: Permata Sejuk di Provinsi Mekkah

Kota Thaif, terletak sekitar 100 km timur laut Mekkah di Provinsi Mekkah, Arab Saudi, dikenal sebagai "Kota Mawar" berkat iklim sejuknya di lereng Pegunungan Hijaz dengan suhu rata rata 20-30...

Selengkapnya
23 Januari 2026
blog-img

ASBABUN NUZUL SURAH AL-BAQARAH AYAT 196: LATAR BELAKANG DAN MAKNA YANG TERKANDUNG

Memahami alasan turunnya setiap ayat dalam Al-Qur’anmenjadi kunci penting untuk mengungkap makna yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Hal ini berlaku juga bagi Surah Al-Baqarah ayat 196, ...

Selengkapnya
22 Januari 2026