MAQAM IBRAHIM: KISAH JEJAK KAKI DAN KETAATAN NABI IBRAHIM A.S
oleh Admin Pusat
Ditulis pada
19 Januari 2026
Di tengah kesibukan ibadah haji dan umrah di Masjidil Haram, terdapat sebuah benda bersejarah yang menjadi saksi bisu dari kejadian luar biasa dalam sejarah agama. Itulah Maqam Ibrahim – sebuah batu yang menyimpan bekas dua lekukan kaki yang dipercaya milik Nabi Ibrahim AS saat beliau membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Tidak sekadar menjadi objek wisata religi, Maqam ini adalah simbol hidup dari keteguhan hati dan ketaatan yang tak tergoyahkan terhadap perintah Allah SWT.
Ceritanya bermula ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun rumah ibadah pertama di muka bumi. Meskipun dihadapkan pada tantangan besar – mulai dari mencari lokasi yang tepat di padang gurun Makkah, hingga kesulitan dalam memasang batu-batu besar Ka'bah – beliau tidak sedikit pun ragu. Saat memasang batu sudut yang paling tinggi dan sulit dijangkau, Nabi Ismail menawarkan pundaknya sebagai alas kaki bagi ayahnya. Namun, Nabi Ibrahim menolaknya dengan lembut, karena tak ingin membebani putranya. Saat itu, Allah memberikan kemudahan dengan menjadikan batu tersebut seperti kapas, sehingga kaki Nabi Ibrahim dapat menancap dan meninggalkan bekas yang jelas hingga kini.
Bekas kaki di Maqam Ibrahim bukan hanya jejak fisik, melainkan cerminan dari dedikasi yang mendalam. Beliau membangun Ka'bah bukan karena kesusahan akan berkurang, melainkan karena yakin bahwa setiap perintah Allah memiliki hikmah yang luas bagi umat manusia. Bahkan setelah konstruksi selesai, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa agar Allah menjadikan tempat itu sebagai pusat ibadah yang menyatukan umat manusia dari berbagai penjuru dunia. Doa tersebut kini menjadi kenyataan, di mana jutaan orang berkumpul setiap tahun untuk menghadap ke arah Ka'bah dalam setiap shalat.
Di masa kini, Maqam Ibrahim ditempatkan di dekat pintu Ka'bah yang bernama Bab Ibrahim. Bagi umat Islam, menyentuh atau bersujud di atasnya merupakan ibadah sunnah yang membawa keberkahan. Namun, lebih dari itu, Maqam ini mengingatkan kita akan pentingnya ketaatan tanpa pamrih, kerja keras yang penuh kesabaran, dan kepercayaan bahwa setiap usaha yang dilakukan karena Allah akan selalu mendapatkan balasan yang baik.
Seperti Nabi Ibrahim yang tidak pernah menyerah menghadapi segala rintangan, kita pun diingatkan untuk tetap teguh pada ajaran agama dan menjalankan kewajiban dengan ikhlas. Maqam Ibrahim adalah bukti bahwa sejarah kebaikan akan selalu hidup dan menginspirasi generasi setelah generasi.