Ketakutan Meninggal Su'ul Khatimah
oleh Babah Fuad
Ditulis pada
24 Maret 2021
Tareem Tour & Travel - Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal" Tatkala ayahku mau meninggal, aku duduk di dekatnya dengan membawa sepotong kain guna mengencangkan mulutnya, lalu beliau berkeringat dan kemudian bangun dan membuka matanya seraya berkata dan memberi isyarat dengan tangannya
"tidak, belum, tidak, belum"
dan ayahku berbuat seperti itu hingga tiga kali, lalu aku berkata padanya :
"Wahai ayahku, kenapa ini ? Ayah berulang-ulang mengatakan hal itu sampai ayah berkeringat hingga kami mengatakan ayah sudah meninggal kemudian ayah mengulangi lagi dan mengatakan tidak, belum, tidak, belum".
maka ayahku berkata kepadaku:
"Wahai anakku tahukah kamu apa yang aku ucapkan? Sesungguhnya iblis yang dilaknat Allah telah berdiri di hadapanku seraya menggigit jari-jarinya dan berkata kepadaku: "Wahai Ahmad kamu telah selamat dari fitnahku"
maka ayah berkata : "tidak, belum, tidak, belum hingga aku benar-benar mati" <Shifatush-Shafwah:439>
Setan menghasut dengan mengatakan hal itu karena dia ingin meletakkan sifat ujub/bangga diri akan amalnya hati imam Ahmad bin Hambal agar saat meninggal dalam keadaan jelek.
Cemas dan takut, karena kita tidak pernah tahu bagaimana akhir dari kehidupan kita. Apakah hidup kita berakhir dengan husnul khatimah (baik diakhirnya) ataukah su'ul khatimah (buruk diakhirnya).
Rasullah SAW bersabda :
"Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga." (HR. Bukhari)
Hadits diatas sepatutnya menjadikan hati ini senantiasa berhati hati. Jangan sampai dalam diri ini ada sesuatu yang menjadi penyebab hidup kita berakhir dengan su’ul khatimah.
Jangan sampai dalam hati ini tumbuh perkara perkara yang menyebabkan amal yang secara kasat mata mengantarkan seseorang ke surga namun ternyata malah menjadi penghuni neraka.
Seberapapun amal yang sudah dikerjakan tidak selayaknya menjadikan diri menepuk dada dan hati membanggakan diri, apalagi lantas meremehkan atau mengecilkan amal kebaikan orang lain.
Hendaknya hati ini tetap tawaduk, tetap rendah hati,tetap merasa cemas dan takut akan nasib nanti di akhirat. Serta tak berhenti berharap kepada Allah agar diselamatkan di yaumil akhir.
Sebagian Salafus-Shalih berkata : "Tidak ada seorang pun yang merasa aman dari dicabutnya agamanya (imannya), kecuali betul-betul agamanya akan dicabut darinya". <an-Nashaih ad-Diniyyah:35>.alu
Rasulullah SAW sering membaca doa
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu"
Lalu mereka bertanya: "Takutkah Anda wahai Rasulullah"
Beliau menjawab :
"Apa yang bisa membuatku aman, sedangkan hati berada di antara dua telunjuk Allah yang bisa dibolak-balikkan kapan saja Ia berkehendak" (HR. Imam Ahmad)
Para nabi dan kaum shiddiqin selalu meminta kepada Allah akan tetapnya iman ketika meninggal.
Terdapat tanda Husnul Khatimah (akhir hayat yang baik) dan tandanya su'ul khatimah (akhir hayat yang tidak baik): jika ajal mendatanginya dia takut terhadap hisab, dosa-dosa dll, maka hal itu menunjukkan bahwasanya dia meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Dan jika dia takut akan anak dan urusan dunianya, maka hal itu menunjukkan bahwasanya dia meninggal dalam keadaan su'ul khatimah