Tercelanya Mencintai Dunia
oleh Babah Fuad
Ditulis pada
03 April 2021
Tareem Tour & Travel - Kehidupan di dunia bukanlah sebuah kehidupan yang kekal melainkan hanya sementara. Dunia dapat membuat kita lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Apa yang kita tuai di dunia tidak akan dibawa ketika kita meninggal, melainkan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan dari sahabat yang lainnya dalam hadits yang masyhur: "Sesungguhnya dunia itu halalnya akan dihisab dan haramnya akan diadzab". (HR al-Imam Ibnu Abi Dunia dan al-Baihaqi)
Dikisahkan bahwasanya ada seorang raja membangun sebuah istana. Lalu raja itu berkata: "Lihatlah (wahai para pekerja), jika dalam istana ada kekurangannya maka perbaikilah!". Lalu ada seorang lelaki berkata kepada raja:
"Aku melihatnya memiliki dua kekurangan".
"Apa itu?" tanya para pekerja raja.
Lelaki itu menjawab : "Si pemilik Istana akan mati dan istana itu akan rusak".
Raja pun berkata: "Benar ucapanmu". Kemudian Raja pun bertaubat kepada Allah dan meninggalkan istana dan dunianya.
BACA JUGA Taubatlah Sebelum Terlambat
Sebagian salafus-shalihin berkata: "Seandainya dunia itu terbuat dari emas yang akan musnah (tidak kekal), sedangkan akhirat terbuat dari tembikar yang tak akan musnah (kekal), maka seharusnya lebih mengedepankan tembikar yang kekal daripada emas yang tidak kekal, apalagi keadaan sesungguhnya sebaliknya (dunia terbuat dari tembikar dan akan musnah, sedangan akhirat terbuat dai emas yang kekal).
Syekh Abu Hasan As-Syadzili pernah berkata: " Dunia adalah putrinya iblis, maka barang siapa yang meminang dunia maka dia akan sering didatangi ayahnya (iblis) dan jika dia telah menikahinya maka iblis telah tinggal bersamanya sepenuhnya."
Para ulama berkata: "Jika kamu ingin tahun nilainya dunia, maka tanyakanlah kepada orang yang sedang menghadapi kematian yang telah dekat dengan kematiannya".
Yahya bin Mu'adz berkata: "Ada dua musibah yang belum pernah didengar oleh orang-orang yang terdahulu maupun orang yang di akhir zaman yang akan menimpa seorang hamba pada hartanya ketika ia meninggal".
Lalu ada yang bertanya: "Apa dua musibah itu?".
Yahya bin Mu'adz menjawab: "Semua harta yang dimiliki akan diambil darinya (oleh ahli waris) dan semua harta itu akan dipertanggungjawabkan olehnya".